« MBA trend ? ato kurang tahu ? | Main | pintu hati »

Egoku bersedihku

Aku teringat masa itu, ketika dia membantuku, memberikan aku dukungan, wejangan, nasehat-nasehat untuk mengarungi samudra kehidupan ini. Begitu bahagia ketika diperhatikan, ketika dianggap sebagai sodara kandung, seorang adik. Banyak kebaikan yang telah dia lakukan untuk aku dan keluargaku.

4 tahun lalu, ketika aku memerlukan dana agar dapat menjalani prosesi wisuda, dialah yang mengulurkan tangan untukku. Tanpa adanya dia waktu itu, dapat dipastikan, aku tidak dapat duduk saat ini, di depan laptopku, membuat tulisan ini, menjadi orang yang berguna dan menghasilkan.

Ketika pertama kali memperoleh hasil, kuberikan padanya, bantuan wisuda itu, ingin kukembalikan, tapi kata dia, pakelah dulu, tabungkan dulu, itu hasilmu yang pertama, berikan pada orangtuamu. Bayangkan begitu baik dia, terhadapku, terhadap keluargaku.

Lihatlah aku, ketika penghasilanku makin bertambah, ketika disibukkan oleh egoku, dengan alas an sibuk karena pekerjaan, hanya untuk membuatkan cd mp3 pesanannya aku tidak sempat. Ada ruang dan kesempatan ketika aku mau menciptakan ruang dan kesempatan itu.

Lihatlah aku, ketika pernikahan dia, aku hanya bisa datang pada saat hari H. Egoku membuatku menciptakan kesibukanku sendiri, dengan pekerjaan sebagai tameng dan pembenaran diri.

Lihatlah aku, ketika diminta untuk mengajari istrinya, open office di OS linux, karena tempat istrinya bekerja tidak memakai windows lagi, sehingga perlu bantuan untuk mempelajarinya. Lagi-lagi egoku membuat aku selalu tidak sempat untuk membantunya, mengajari istrinya.

Lihatlah aku ketika sore itu, aku kerumahnya, meminta makan darinya, ketika dia terbangun dan dengan wajah yang sangar, bicara yang meledak-ledak, memberitahuku tentang ketidaksukaanya terhadap suasana sekitar perumahan yang tidak tenang lagi seperti dulu. Banyak kendaraan, yang akupun tidak tau dan tidak habis pikir, knalpot yang dibedel, klakson yang aneh-aneh, membuat ramai seperti di bengkel dan balapan liar. Ketika dia berbicara tentang temenku satu kos, yang dibencinya, yang kata dia hanya berani dikandang saja memainkan motor, klakson dan suara knalpot. Ingin rasanya dia mencari orang itu dan berduel secara gentle. Omongan itu seperti memojokkanku karena aku tidak bisa memberitau ketemanku itu untuk menjaga sikapnya. Dimataku temenku tidak pernah berbuat seperti itu. Egoku membuat aku tersinggung, membuatku marah dan kesal terhadap dia. Lalu pergi meninggalkannya

Lihatlah aku setelah peristiwa 2 hari lalu itu, aku menjadi tidak berbasa-basi lagi dengannya, jarang bertegur sapa dengannya. Egoku membuat alas an pembenaran diri, bahwa aku tidak pantas diperlakukan seperti itu, bahwa aku adalah benar, dia yang salah.

Lihatlah aku, ketika kejadian ini menjadi issue keluarga dan semuanya menjadi runyam. Egoku membuat pembenaran diri, aku benar dia salah.

Lihatlah aku, ketika aku mulai tersadar, berpikir kenapa dia bisa berkata kasar, marah dan dengan nada yang tinggi. Sakit, tidur di senja hari menjelang malam, dan bangun yang tergesa-gesa, membuat pikirannya kalut dan biasanya gampang emosi. Ingin rasanya aku kerumahnya, meminta maaf kepadanya dan membuat semuanya menjadi clear. Egoku membuat aku tidak mau meminta maaf, membuat aku gengsi, membuat aku melupakan semua kebaikannya. Hanya karena setetes tinta yang jatuh ke segelas susu, susupun dipikir hitam semua.

Lihatlah aku, ketika tau dari adikku, yang mendengarkan curhatnya. Dengan air mata yang mogok, tidak mau keluar, hanya tampak kaca-kaca di mata dia: “jika saja aku bisa membalikkan waktu, aku akan menarik ucapanku, aku memang egois, aku memang pemarah, itulah kejelekanku. Aku sayang dengan dia, dia adikku. Aku ingin curhat dengan dia, walaupun caraku salah.”

Lihatlah aku ketika mulai tersadar, bahwa aku salah, egoku menguasaiku, membuat aku buta terhadap kebaikannya, yang akupun belum tentu berbuat dan membalas kebaikannya, budi baiknya. Dan sedihnya aku ketika aku tau dia telah tidak menghuni rumahnya lagi, sudah pindah ke kota lain. Sedihnya aku ketika aku tidak sempat untuk meminta maaf. Bodohnya aku….

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .