Egoku bersedihku
Aku teringat masa itu, ketika dia membantuku, memberikan
aku dukungan, wejangan, nasehat-nasehat untuk mengarungi samudra kehidupan ini.
Begitu bahagia ketika diperhatikan, ketika dianggap sebagai sodara kandung,
seorang adik. Banyak kebaikan yang telah dia lakukan untuk aku dan keluargaku.
Lihatlah aku, ketika penghasilanku makin bertambah, ketika
disibukkan oleh egoku, dengan alas an sibuk karena pekerjaan, hanya untuk
membuatkan cd mp3 pesanannya aku tidak sempat. Ada ruang dan kesempatan ketika
aku mau menciptakan ruang dan kesempatan itu.
Lihatlah aku, ketika pernikahan dia, aku hanya bisa datang
pada saat hari H. Egoku membuatku menciptakan kesibukanku sendiri, dengan
pekerjaan sebagai tameng dan pembenaran diri.
Lihatlah aku, ketika diminta untuk mengajari istrinya, open
office di OS linux, karena tempat istrinya bekerja tidak memakai windows lagi,
sehingga perlu bantuan untuk mempelajarinya. Lagi-lagi egoku membuat aku selalu
tidak sempat untuk membantunya, mengajari istrinya.
Lihatlah aku ketika sore itu, aku kerumahnya, meminta makan
darinya, ketika dia terbangun dan dengan wajah yang sangar, bicara yang
meledak-ledak, memberitahuku tentang ketidaksukaanya terhadap suasana sekitar
perumahan yang tidak tenang lagi seperti dulu. Banyak kendaraan, yang akupun tidak
tau dan tidak habis pikir, knalpot yang dibedel, klakson yang aneh-aneh,
membuat ramai seperti di bengkel dan balapan liar. Ketika dia berbicara tentang
temenku satu kos, yang dibencinya, yang kata dia hanya berani dikandang saja
memainkan motor, klakson dan suara knalpot. Ingin rasanya dia mencari orang itu
dan berduel secara gentle. Omongan itu seperti memojokkanku karena aku tidak
bisa memberitau ketemanku itu untuk menjaga sikapnya. Dimataku temenku tidak
pernah berbuat seperti itu. Egoku membuat aku tersinggung, membuatku marah dan
kesal terhadap dia. Lalu pergi meninggalkannya
Lihatlah aku setelah peristiwa 2 hari lalu itu, aku menjadi
tidak berbasa-basi lagi dengannya, jarang bertegur sapa dengannya. Egoku
membuat alas an pembenaran diri, bahwa aku tidak pantas diperlakukan seperti
itu, bahwa aku adalah benar, dia yang salah.
Lihatlah aku, ketika kejadian ini menjadi issue keluarga
dan semuanya menjadi runyam. Egoku membuat pembenaran diri, aku benar dia
salah.
Lihatlah aku, ketika aku mulai tersadar, berpikir kenapa
dia bisa berkata kasar, marah dan dengan nada yang tinggi. Sakit, tidur di
senja hari menjelang malam, dan bangun yang tergesa-gesa, membuat pikirannya
kalut dan biasanya gampang emosi. Ingin rasanya aku kerumahnya, meminta maaf
kepadanya dan membuat semuanya menjadi clear. Egoku membuat aku tidak mau
meminta maaf, membuat aku gengsi, membuat aku melupakan semua kebaikannya.
Hanya karena setetes tinta yang jatuh ke segelas susu, susupun dipikir hitam
semua.
Lihatlah aku, ketika tau dari adikku, yang mendengarkan
curhatnya. Dengan air mata yang mogok, tidak mau keluar, hanya tampak
kaca-kaca di mata dia: “jika saja aku
bisa membalikkan waktu, aku akan menarik ucapanku, aku memang egois, aku memang
pemarah, itulah kejelekanku. Aku sayang dengan dia, dia adikku. Aku ingin
curhat dengan dia, walaupun caraku salah.”
Lihatlah aku ketika mulai tersadar, bahwa aku salah, egoku
menguasaiku, membuat aku buta terhadap kebaikannya, yang akupun belum tentu
berbuat dan membalas kebaikannya, budi baiknya. Dan sedihnya aku ketika aku tau
dia telah tidak menghuni rumahnya lagi, sudah pindah ke kota lain. Sedihnya aku
ketika aku tidak sempat untuk meminta maaf. Bodohnya aku….

Comments